Kyai Hasyim adalah putera dari KH.
Abdul Manan. Pendidikan beliau ditempuh dari satu pondok pesantren ke pondok
pesantren lainnya, salah satunya adalah di Pondok Pesantren Tebu Ireng,
Jombang, yang saat itu diasuh oleh KH. M. Hasyim Asy’ari. Setelah Kyai Hasyim
pulang dari pondok pesantren Tebu Ireng Jombang pada tahun 1935, beliau menjadi
salah satu penerus perjuangan penyelenggaraan pendidikn yang dirintis KH.
Muhammad Nur Nashoha—yang saat itu—belum memiliki nama. Kyai Hasyim kemudian
mengusulkan untuk menata ulang pola pendidikan yang dijalankan dengan mengacu
pola pendidikanj kelas yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Tebu Ireng
Jombang, dan juga—bersama dengan para kyai lainnya—memberi nama Salafiyatul
Huda pada lembaga pendidkian yang dirintis oleh KH. Muhammad Nur Nashoha
tersebut. Setelah era Kyai Abdullah Tawwab (putera KH Muhammad Nur Nashoha) dan
Kyai Abdullah Sajad (santri KH. M. Nur Nashoha), beliau merupakan salah satu
pimpinan lembaga Salafiyul Huda. Sebelum Kyai Hasyim meninggal dunia, beliau
mempercayakan pengelolaan madrasah Salafiyatul Huda kepada lima orang generasi
muda (penerus beliau), yaitu:
1.
Kyai Mahsun Abdul Manan (adik
Kyai Hasyim sendiri)
2.
Kyai Ahmad Masroeri
3.
Kyai Cholil Toyyib
4.
Kyai Muhammad (KH. Muhammad
Nur Hamid)
5.
Kyai Hayyun
Beliau meninggal pada tahun 1946 dan dimakamkan di makam
Pulo Selo Tawangharjo Grobogan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar