Sejarah I

 

SALAFIATUL HUDA, MADRASAH SUNNIYYAH, HINGGA YAYASAN SUNNIYYAH SELO*)

(Sejarah Perintisan, pendirian, dan perkembangan Yayasan Sunniyyah Selo)

 

Desa Selo bukanlah nama asing bagi masyarakat Kabupaten Grobogan dan sekitarnya terkait dengan perkembangan dan pendidikan Islam. Selain itu, nama Selo juga dikenal karena di desa Selo terdapat salah satu makam waliyullah, Syekh Abdurrahman Kyai Ageng Selo yang terkenal sebagai penangkap petir.

Terkait dengan pendidikan Islam, awal mula adanya pendidikan Islam di Desa Selo diprakarsai oleh KH. Muhammad Nur Nashoha pada tahun 1930-an. Saat itu beliau memberikan pendidikan kepada santri-santrinya dengan model pendidikan pesantren saat itu, yaitu dengan cara ngaji sorogan. Dalam melaksanakan dan mengelola pendidikan ini, beliau dibantu, terutama oleh dua orang, yaitu:

1.       K. Abdullah Tawwab (putera KH. Muhammad Nur Nashoha), dan

2.       K. Abdullah Sajjad (santri KH. Muhammad Nur Nashoha)

Kegiatan ‘ngaji’ (pendidikan) yang dilksanakan beliau bertiga semakin hari semakin berkembang, sehingga beberapa kyai (masyayikh) ikut serta dalam pengelolaan pendidikan yang dirintis oleh KH. Muhammad Nur Nashoha tersebut, antara lain:

1.       Kyai Hasyim Abdul Manan (ayah Kyai Mahsun)

2.       Kyai Ibrahim

3.       Kyai Ramelan (KH. Sholeh) (Mertua Kyai Ahmad Masroeri dan juga Kyai Cholil Toyyib)

4.       Kyai Abdullah

5.       Kyai Marsam

6.       Kyai Mahsun (ayah KH. Umar Ali Mahsun)

Meskipun kegiatan pendidikan sudah berjalan dan berlangsung, namun pada saat itu kegiatan tersebut belum memiliki nama. Oleh karena itu kemudian para kyai yang berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan tersebut bersepakat untuk memberi nama lembaga pendidikan tersebut dengan nama Salafiyatul Huda.

Sebelum Kyai Hasyim wafat, beliau mempercayakan pengelolaan madrasah Salafiyatul Huda kepada lima orang kyai yang dipercaya sebagai penerus bagi pengelolaan madrasah Salafiyatul Huda. Lima orang kyai tersebut adalah:

1.       Kyai Mahsun Abdul Manan (ayah KH. Umar Ali Mahsun)

2.       Kyai Ahmad Marsoeri Mawardi

3.       Kyai Cholil Toyyib (ayah KH Imron Hasani)

4.       Kyai Muhammad (setelah berhaji menjadi KH Muhammad Abdul Hamid), dan

5.       Kyai Hayyun

Kemudian lima kyai yang diamanahi madrasah Salafiyatul Huda ini bermusyawarah terkait dengan pengembangan pendidikan di Salafiyatul Huda yang pada akhirnya memutuskan untuk mengubah nama madrasah Salafiyatul Huda menjadi Madrasah Sunniyyah pada tahun 1946. Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Yayasan Sunniyyah Selo.

Pada tahun 1946, Madrasah Sunniyyah hanya memiliki satu lembaga pendidikan, yaitu Madrasah Diniyyah. Kemudian seiring berjalannya waktu, Madrasah Sunniyyah semakin berkembang dengan mendirikan berbagai lembaga pendidikan di samping tetap mempertahankan madrasah diniyyah. Adapun perkembangan Madrasah Sunniyyah yang kemudian menjadi Yayasan Sunniyyah adalah sebagai berikut:

1.       Madrasah Diniyyah Sunniyyah dimulai pada tahun 1946 sebagai lembaga pertama Madrasah Sunniyyah dan merupakan kelanjutan dari pendidikan madrasah Salafiyatul Huda.  Dalam perkembangannya Madrasah Diniyyah menjadi Madrasah Diniyyah (Madin) Ula Sunniyyah Selo

2.       Pada tahun 1953, pengurus Madrasah Sunniyyah membangun gedung Madrasah Diniyyah sebanyak 3 ruang kelas di depan Masjid Jami’ Kyai Ageng Selo, di mana sebelumnya proses pembelajaran dilaksanakan di rumah-rumah. Gedung ini merupakan cikal bakal gedung MI Sunniyyah Selo

3.       Pada tahun 1958, KH Rodli Sholeh memprakarsai pendirian Madrasah Wajib Belajar (MWB), sebuah lembaga pendidikan setingkat Sekolah Dasar, yang kemudian berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyyah Sunniyyah Selo I (Karena dalam perkembangnya pengurus juga mengelola pendidikan tingkat SD di dusun Ngrampaan dengan nama Madrasah Ibtidaiyyah Sunniyyah Selo II)

4.       Pada tahun 1966, K. Cholil Toyyib memprakarsai pendirian Madrasah Tsanawiyah untuk menampung lulusan MWB (MI) karena saat itu bahkan di Tawangharjio belum ada SMP. Jadi bisa dikatakan ini merupakan lembaga pendidikan menengah pertama yang ada di kawasan kecamatan Tawangharjo. Cuma berbeda dengan pendidikan menengah pertama lainnya, pada awal pendiriannya, masa belajar di Madrasah Tsanawiyah adalah 6 tahun, bukan 3 tahun. Dalam perkembangannya Madrasah Tsanawiyah ini menjadi Madrasah Tsanawiyah Putera Sunniyyah Selo

5.       Pada tahun 1967, Drs. KH. Ahmad Ghazalie Masroeri memprakarsai pendirian Madrasah Mualimat, yaitu setingkat sekolah menengah pertama khusus untuk puteri. Dalam perkembangannya Madrasah Mualimat kemudian menjadi Madrasah Tsanawiyah Puteri Sunniyyah Selo.

6.       Pada tahun 1968 pengurus Madrasah Sunniyyah memberi hak otonom pengelolaan kepada pengelola Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sunniyyah Selo II di Ngrampaan. Dalam perkembangannya kemudian MI Sunniyyah II berdiri sendiri dengan menggunakan nama MI Sunniyyah Selo Dua

7.       Pada tahun 1968, pengurus Madrasah Sunniyyah merintis pendirian Madrasah Aliyyah (MA). Sebenarnya ini merupakan pemecahan dari Madrasah Tsanawiyah 6 tahun, sehingga siswa kelas IV MTs mulai tahun 1868 menjadi siswa kelas I MA. Kepala Madrasah pertama MA Sunniyyah adalah KH. Umar Ali Mahsun

8.       Pada tahun 1975, pengurus Madrasah Sunniyyah mendirikan lembaga baru dalam naungan Madrasah Sunniyyah, yaitu Raudlatul Athfal (RA) Sunniyyah Selo. Saat itu yang mendapat amanah dari pengurus untuk menjadi pengelola RA adalah Ibu Chotibah.

9.       Pada tahun 1987, pengurus Madrasah Sunniyyah memutuskan untuk membuat badan hokum bagi Madrasah Sunniyyah, maka pengurus memberi amanah kepada KH. Ahmad Ghazalie Masroeri untuk melaksanakan hal ini dengan membuat akta Notaris Yayasan Sunniyyah Selo bernomor : 3 tanggal 16 Mei 1987 oleh Sujanto, SH. Kemudian akta Yayasan ini dimasukkan dalam lembaran Negara Nomor: 10. Hingga saat ini akta Yayasan sudah mengalami dua kali perubahan, yaitu pada tahun 2016 dan tahun 2020 sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan yayasan.

10.   Pada tahun 1993, KH. Imron Hasani Cholil bersama pengurus lainnya memprakarsai pendirian Madrasah Tsanawiyah Diniyyah guna menampung lulusan Madrasah Diniyyah yang masih ingin melnjutkan pendidikannya. Dalam perkembangannya menjadi Madrasah Diniyyah Wustha Sunniyyah Selo.

11.   Pada tahun 1995, Pengurus Yayasan yang juga diprakarsai KH. Imron Hasani Cholil merintis pendirian Madrasah Aliyah Diniyah sebagai kelanjutan dari Madrasah Tsanawiyah Diniyyah. Dalam perkembangannya menjadi Madrasah Diniyyah Ulya Sunniyyah Selo

12.   Pada tahun 2020, pengurus Yayasan Sunniyyah Selo (saat itu diketuai Drs. KH. Ahmad Ni’am Syukri, M. Si) merintis pendirian Sekolah Tinggi Islam Sunniyyah Selo (STISS) dengan terbitnya ijin pendirian STISS berdasar Keputusan Menteri Agama Republik Indoneisa Nomor: 318 Tahun 2020 tentang Izin Pendirian Sekolah Tinggi Islam Sunniyyah Selo Grobogan tertanggal 13 Maret 2020.

Demikian selayang pandang kronologi perkembangan Yayasan Sunniyyah Selo mulai dari masa rintisan hingga masa sekarang. Semoga Yayasan Sunniyyah Selo senantiasa mampu berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman dan senantiasa memberi kemanfaatan pada semua.

 

*) Ditulis berdasar uraian yang disampaikan Bapak Asyhuri Sm, S. Pd.I pada Haul Peristis, Pendiri, dan Pejuang Yayasan Sunniyyah Selo tahun 2021 dan dipadukan dengan berbagai sumber data lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KYAI IBRAHIM

 Kyai Ibrahim merupakan salah satu pengurus dan donatur bagi madrasah Salafiyatul Huda. Madrasah yang kemudian berganti nama menjadi madrasa...