Senin, 15 November 2021

KH. RODLI SHOLEH

 


KH Moh. Rodhi Sholeh lahir di Selo pada tanggal 03 Maret 1933. Beliau adalah salah satu putera Kyai Ramelan (KH. Sholeh). Pendidikan KH. Moh. Rodhi Sholeh dari pesantren ke pesantren, di antaranya Pesantren Termas, Pesantren Matholiul Falah Kajen, Pesantren Krapyak. Selain, beliau juga masuk dalam pendidikan formal setingkat SMP dan SMA. Beliau juga dikenal sebagai sosok yang cerdas dan tekun, sehingga ketika beliau masih menjadi santri—misal di Krapyak--beliau juga diminta untuk penjadi pendidik (guru).

Ketika kembali ke Selo, beliau ikut aktif dalam pengelolaan Madrasah Sunniyyah Selo. Pada tahun 1958, KH. Moh. Rodhi Sholeh bersama dengan pengurus Madrasah Sunniyyah Selo merintis berdirinya Madrasah Wajib Belajar (MWB), sebuah lembaga pendidikan setingkat sekolah dasar yang menjadi cikal bakal dari Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Sunniyyah Selo.

Salah satu prinsip hidup beliau adalah bahwa untuk dapat melakukan perubahan besar, seseorang harus menjadi tokoh dan memiliki pengaruh besar, maka pandai-pandailah memilih lingkungan karena lingkungan (tempat domisili) merupakan salah satu faktor yang menentukan seberapa besar dan luas pengarus yang bisa dihasilkan. Mungkin prinsip inilah yang mendorong beliau sehingga memutuskan untuk berpindah tempat ke Jakarta bersama keluarga pada tahun 1968.

Ketika pertama datang di Jakarta beliau tinggal di wilayah Klender Jakarta Timur. Beliau tinggal di dekat pasar dan masjid. Dua tempat yang mewakili dua kebutuhan hidup manusia, kebutuhan duniawi dan kebutuhan ukhrawi. Beliau memulai usaha perdagangan sebagai pedagang buku dan kitab. Usaha beliau berkembang pesat sehingga beliau termasuk pedagang buku yang besar dan sukses saat itu. Selain itu karena semangat dakwah dan jiwa pendidik yang beliau miliki, KH. Moh. Rodhi Sholeh kemudian merintis lembaga pendidikan di Klender dengan nama Al-Falah yang saat ini memiliki lembaga pendidikan mulai dari MI, MTs, dan MA.

KH. Moh. Rodhi Sholeh menikah dengan puteri salah satu pimpinan Pondok Pesantren Matholiul Falah (KH. Mahfudz Salam) yang bernama Nyai Fadlilah (adik dari KH. Sahal Mahfudz dan keponakan KH. Abdullah Salam). Dari pernikahan ini beliau memiliki satu putera (KH. Nur Fuad), dan 3 puteri. Pada tahun 1984  Ibu Fadlilah meninggal dunia dan dimakamkan di Pondok Bambu. Setelah Ibu Fadillah meninggal, KH Moh Rodhi Sholeh kemudian menikah kembali dengan Ibu Nyai Zuhrotul Azizah (salah satu keponakan KH. Abdullah Salam lainnya) dan memiliki dua orang anak, 1 putera dan 1 puteri. Ibu Nyai Zuhrotul Azizah meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan Jakarta – Pati dan dimakamkan di Kayen Pati

Ketika tinggal di Jakarta KH. Moh. Rodhi Sholeh dan keluarga pernah berpindah-pindah tempat, yaitu di Klender, Pondok Gede, dan Pondok Bambu. Di setiap tempat tinggal beliau, KH. Moh. Rodhi Sholeh tidak pernah lepas dari dunia pendidikan dan dakwah, sehingga ketika beliau meninggal dunia, masyarakat dari ketiga tempat ini meminta keluarga untuk memakamkan KH. Moh. Rodhi Sholeh di kampung mereka sebagai bentuk pengakuan dan penghormatan kepada beliau.

Salah satu sikap menonjol yang dimiliki oleh KH. Moh. Rodhi Sholeh adalah semangat, ketekunan dan kecintaaan beliau terhadap ilmu. Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan beliau yang selalu menggunakan waktunya untuk menelaah kitab maupun buku (diceritakan oleh putera beliau bahwa di kamar beliau selalu berserakan buku dan kitab yang biasa ditelaah oleh KH. Moh. Rodhi Sholeh).

KH. Moh. Rodhi Sholeh juga senantiasa aktif dalam organisasi NU dari muda, mulai dari IPNU, Ansor hingga menjadi pengurus NU. Kedalaman dan keluasan ilmu beliau diakui oleh para ulama dalam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama sehingga pada Muktamar NU ke-27 Situbondo, beliau mendapat amanah untuk menjadi Wakil Rais Am Syuriah Nahdlatul Ulama periode 1984 – 1989, kemudian pada dua muktamar berikutnya beliau mendapat amanah sebagai anggota Muntasyar PBNU periode 1989 – 1994 dan periode 1994 – 1999.

KH. Moh. Rodhi Sholeh meninggal pada tanggal 12 Juni 2001 dan bertepatan dengan 20 Rabiul Awwal 1422. Beliau dimakamkan di pemakaman Pondok Bambu, yang berada di tengah antara Pondok Gede dan Klender.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KYAI IBRAHIM

 Kyai Ibrahim merupakan salah satu pengurus dan donatur bagi madrasah Salafiyatul Huda. Madrasah yang kemudian berganti nama menjadi madrasa...