Drs. KH. Ahmad Ghazalie Masroeri adalah salah satu kyai yang membidani penetapan madrasah Sunniyyah menjadi berbadan hukum dengan nama Yayasan Sunniyyah Selo. Beliau dilahirkan di Desa Selo Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan pada tanggal 21 April 1939. Beliau adalah putera pertama dari pasangan K. Ahmad Masroeri bin Mawardi dan Nyai Hj. Atmah Nur Azizah binti KH. Sholeh.
KH. Ahmad Ghazalie menikah dengan Nyai Hj. Zaimah bin KH. Muslih dari Rembang pada tanggal 5 Maret 1970. Beliau menetap di Bintaro, Jakarta Selatan. Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai 8 putera-puteri, 4 orang putera dan 4 orang puteri.
Pendidikan beliau berawal dari Madrasah Sunniyyah (madrasah Diniyyah) di Desa Selo. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikan beliau di Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri, Jawa Timur di bawah asuhan Kyai Ma'ruf. Setelah dari Ponpes Kedunglo, kemudian beliau melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH. Ali Maksum.
Ketika berada di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, beliau juga belajar di pendidikan formal (MTs dan MA Krapyak). Pendidikan Sarjana beliau ditempuh di Kulliyyatul Qadha, Fakultas Hukum Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta pada tahun 1958 dan merupakan angkatan pertama.
KH. Ahmad Ghazalie merupakan pribadi yang tegas dan memiliki visi ke depan terutama dalam organisasi, pendidikan dan juga sosial keagamaan. Sense organisasi beliau tampaknya berasal dari ayah beliau—K. Ahmad Masroeri Mawardi—yang juga sangat aktif dalam organisasi NU. Bukan sekedar aktif dalam berorganisasi, KH. Ahmad Ghazalie juga merupakan seorang penggerak sekaligus inisiator dalam organisasi. Aktifitas ini tampak menonjol dimulai terutama sejak berada di Fakultas Hukum Islam UNU Surakarta dengan mendirikan IPNU Ranting Istimewa UNU Surakarta tahun 1958, mendirikan IPNU Cabang Grobogan dan menjadi Ketua (1961 - ), Ketua II PC IPNU Cabang Surakarta (1961 - ), Ketua PW IPNU Jawa Tengah (1963 - ), Mendirikan PC PMII Grobogan (1966), Wakil Ketua PMII Jawa Tengah (1969 – 1971), Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah (1973 - ), Jajaran Syuriah PBNU (1979 – 1984), Katib kemudian Katib Aam Syuriah PBNU (1984 – 1989), A’wan Syuriah PBNU (1989 – 1994), Wakil Ketua Lajnah Falakiyah PBNU (1994 – 1999), Ketua Lajnah Falakiyah PBNU (1999 – 2020). Tahun 2015 berubah menjadi Lembaga Falakiyah PBNU, Anggota Komisi Fatwa MUI (2000 – 2020), Anggota Badan Hisab Rukyah (BHR) Depag RI (kemudian berubah menjadi Tim Hisab Rukyah Kemenag RI, kemudian menjadi Tim Falakiyah Kemenag RI) (2000 – 2020)
KH. Ahmad Ghazalie juga memiliki perhatian besar terhadap dunia pendidikan. Hal dapat dilihat dari berbagai ide dan langkah yang beliau lakukan terkait dengan dunia pendidikan, antara lain: mendirikan dan Pimpinan SPFHI (Sekolah Pendahuluan Fakultas Hukum Islam) UNU Surakarta di Mranggen, Demak (1966 - ), mendirikan MTs Puteri Sunniyyah Selo (awalnya bernama Mualimat) pada tahun 1967 di Selo dan merupakan bagian dari Madrasah Sunniyyah Selo, mendirikan dan menjadi Kepala Sekolah SPIAIN (Sekolah Persiapan IAIN) di Purwodadi 1970, sekarang MAN 1 Purwodadi, salah satu yang membidani perubahan Madrasah Sunniyyah Selo menjadi Yayasan Sunniyyah Selo dan menjadi salah satu Pendiri Yayasan Sunniyyah Selo (1987). Selain itu, beliau juga menjadi penggerak lembaga sosial keagamaan di lingkungan beliau menetap, yaitu di Kawasan Bintaro Jakarta Selatan dan termasuk jajaran pendiri dan Pembina Yayasan Aswaja Bintaro (2011 – 2020)
Selain organisasi dan pendidikan, KH. Ahmad Ghazalie juga terlibat aktif dalam kegiatan politik di Indonesia dengan berperan aktif dalam kegiatan partai politik NU dan kemudian Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan bahkan menjadi anggota DPR RI dari Partai NU (1973 – 1977), dan PPP dari unsur NU (1977 – 1982).
Setelah tidak aktif dalam kancah perpolitikan, beliau mengfokuskan diri untuk berkhidmah kepada masyarakat dengan berbagai kegiatan sosial keagamaan, dan pendidikan. Meskipun KH. Ahmad Ghazalie tinggal dan menetap di Bintaro Jakarta Selatan, namun perhatian beliau atas perkembangan pendidikan di desa kelahiran beliau tidak pernah luntur. Hal ini dibuktikan dengan kerelaan beliau untuk tetap menjadi salah satu Dewan Pendiri Yayasan Sunniyyah Selo hingga akhir hayat beliau
Beliau meninggal pada tanggal 19 Februari 2020 di RS Bintaro Jakarta Selatan dan dimakamkan di Makam Sagi Selo Tawangharjo Grobogan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar