Kyai Cholil Toyyib adalah salah satu perintis Yayasan Sunniyyah Selo. Beliau lahir pada sekitar tahun 1915. Beliau adalah putera keempat dari dua belas bersaudara. Ayah beliau bernama Kyai Atmo Toyyib sedang ibu beliau bernama Nyai Juwariyah
Dalam perjalanan pendidikan, beliau pernah
menimba ilmu di tiga pondok pesantren di tempat yang berbeda-beda. Pertama kali
beliau belajar di sebuah pondok pesantren di daerah Rembang (tidak diketahui
nama pondok pesantrennya). Saat itu beliau ikut kakek beliau yang berada di Kunduran
Blora. Setelah beberapa waktu, beliau
ingin mencari suasana baru kemudian beliau berpindak ke pondok pesantren lain ke
Rembang. Setelah itu, beliau menimba ilmu di Pondok Termas yang diasuh oleh KH.
Mahfudz Termas di daerah Pacitan, Jawa Timur.
Sebelum berangkat menuntut ilmu di Pondok
Termas, beliau mencari bekal (sangu) untuk ‘mondok’ dengan membantu
kakak beliau berdagang di daerah Sulursari. Setelah merasa cukup bekal yang
diperlukan, beliau berangkat ke Pacitan untuk menuntut ilmu di Pondok Termas,
sedangkan usaha yang dirintis beliau diteruskan oleh adik beliau. Beberapa kali
beliau mendapatkan kiriman bekal dari adik beliau dari usaha yang dikelola,
namun hal tersebut tidak berlangsung lama karena usaha yang diteruskan sang
adik tidak berjalan sebagaimana harapan. Karena tidak ada kiriman bekal dari
rumah, maka beliau melakukan berbagai usaha (ikhtiar) agar dapat tetap bisa
melanjutkan belajar di Pondok asuhan KH. Mahfudz Termas tersebut.
Selang beberapa bulan beliau pulang ke Selo.
Ketika KH. Sholeh (seorang tokoh Islam di Selo yang kemudian menjadi mertua Kyai
Cholil) mengetahui bahwa Kyai Cholil muda ‘mondok’, KH. Sholeh memberi amanah kepada
Kyai Cholil muda untuk “merawat” putranya, Kyai Rodli muda (kemudian menjadi kakak ipar)
di pondok pesantren. Setelah beberapa
tahun, akhirnya beliau pulang dan memutuskan untuk muqim di rumah. Kemudian Kyai
Cholil muda diambil menantu oleh KH. Sholeh dan dinikahkan dengan salah satu
putrinya yang bernama Nyai Kasmonah. Saat itu Kyai Cholil muda berusia 30 tahun
dan Nyai Kasmonah berusia 15 tahun
Setelah menikah, Kyai Cholil muda mendirikan
konveksi kecil-kecilan dan mampu bertahan hingga 10 tahun. Usaha konveksi
mengalami perkembangan dari tahun ke tahun, namun Kyai Cholil muda merasakan
ada sesuatu yang kurang dalam hati. Beliau merasa ilmu yang didapatkan dari
berbagai pondok pesantren belum mampu memberi kemanfaatan secara maksimal, baik
bagi beliau sendiri maupun bagi masyarakat secara umum. Hal ini—dalam
perenungan beliau—disebabkan salah satunya akibat kesibukan beliau dalam
mengelola usaha konveksi dan usaha-usaha lain yang dikembangkn beliau.
Oleh karena itu, beliau kemudian memutuskan dan
membulatkan tekad untuk sepenuh hati mengfokuskan diri pada upaya untuk
memberikan layanan pendidikan agama (mengaji) kepada masyarakat umum. Beliau
melepaskan diri dari seluruh kesibukan usaha yang beliau rintis dan
mengamanatkan seluruh usaha tersebut kepada isteri beliau, Nyai Kasmonah.
Kemudian pada tahun 1958 beliau mendirikan sebuah tempat pengajian yang diberi
nama al-Hidayah yang kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Al-Hidayah.
Selain itu, setelah pulang dari pondok juga
menjadi guru di madrasah Salafiatul Huda yang didirikan oleh Kyai Hasyim
bersama kiai-kiai lain. Kemudian, Kyai Cholil bersama dengan kiai-kiai penerus
perjuangan Kyai Hasyim (antara lain Kiai Masroeri, Kyai Rodli Sholeh, dan Kyai
Mahsun) merubah nama madrasah Salafiatul Huda menjadi madrasah Sunniyyah pada
tahun 1946 dengan maksud untuk membangkitkan semangat baru dalam pengelolaan
dan pengembangan madrasah. Inilah yang kemudian berkembangan seiring perjalanan
zaman menjadi Yayasan Sunniyyah Selo.
Kyai Cholil Toyyib adalah seorang kiai yang
tegas dalam memegang prinsip dalam melaksanakan syariat Islam. Diceritakan
bahwa—dalam beberapa waktu—beliau selalu melakukan i’adah (mengulang
shalat) shalat Dhuhur setelah shalat Jum’at ketika dalam pandangan beliau
jumlah jamaah shalat Jum’at kurang dari 40 orang laki-laki. Beliau senantiasa
ber-khusnudzon dengan orang lain, sehingga di hadapan beliau semua orang
baik. Beliau juga sangat tawadhu dalam bersikap kepada orang lain terutama
dengan para ulama saat itu. Dikisahkan bahwa beliau dan Kyai Ahmad Masroeri
sering berebut cepat ketika turun dari masjid untuk menyiapkan sandal yang lain
sebagai bentuk ta’dzim dan penghormatan kepada seorang ‘alim. (Kyai Cholil
menyiapkan sandal Kyai A. Masroeri, demikian juga sebaliknya Kyai A. Masroeri
menyiapkan sandal Kyai Cholil).
Pada tahun 1979, K. Cholil Toyyib meninggal dunia dan dimakamkan di pemakanan utara Masjid Jami’ Kyai Ageng Selo. K. Cholil Toyyib dan Nyai Kasmonah memiliki 10 putra putri, yang terdiri dari 3 putera dan 7 puteri, yaitu; Masti'ah, Musyarofah, Aisyah, Muzayyanah, Suyuti, Imron Hasani, Roehanah, Hariroh, Umi Rofiqoh, dan Gufron. Saat ini, putra putri beliau yang masih hidup ada 3 orang yaitu, Ibu Masti’ah (isteri Alm. Drs. KH. Ahmad Buchori Masroeri), Ibu A’isyah, dan KH. Imron Hasani Cholil (Ketua Yayasan Sunniyyah Selo saat ini). (mka)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar