
KH Moh. Rodhi Sholeh lahir di
Selo pada tanggal 03 Maret 1933. Beliau adalah salah satu putera Kyai Ramelan
(KH. Sholeh). Pendidikan KH. Moh. Rodhi Sholeh dari pesantren ke pesantren, di
antaranya Pesantren Termas, Pesantren Matholiul Falah Kajen, Pesantren Krapyak.
Selain, beliau juga masuk dalam pendidikan formal setingkat SMP dan SMA. Beliau
juga dikenal sebagai sosok yang cerdas dan tekun, sehingga ketika beliau masih
menjadi santri—misal di Krapyak--beliau juga diminta untuk penjadi pendidik
(guru).
Ketika kembali ke Selo, beliau
ikut aktif dalam pengelolaan Madrasah Sunniyyah Selo. Pada tahun 1958, KH. Moh.
Rodhi Sholeh bersama dengan pengurus Madrasah Sunniyyah Selo merintis
berdirinya Madrasah Wajib Belajar (MWB), sebuah lembaga pendidikan setingkat
sekolah dasar yang menjadi cikal bakal dari Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Sunniyyah
Selo.
Salah satu prinsip hidup beliau
adalah bahwa untuk dapat melakukan perubahan besar, seseorang harus menjadi
tokoh dan memiliki pengaruh besar, maka pandai-pandailah memilih lingkungan
karena lingkungan (tempat domisili) merupakan salah satu faktor yang menentukan
seberapa besar dan luas pengarus yang bisa dihasilkan. Mungkin prinsip inilah
yang mendorong beliau sehingga memutuskan untuk berpindah tempat ke Jakarta
bersama keluarga pada tahun 1968.
Ketika pertama datang di Jakarta
beliau tinggal di wilayah Klender Jakarta Timur. Beliau tinggal di dekat pasar
dan masjid. Dua tempat yang mewakili dua kebutuhan hidup manusia, kebutuhan
duniawi dan kebutuhan ukhrawi. Beliau memulai usaha perdagangan sebagai
pedagang buku dan kitab. Usaha beliau berkembang pesat sehingga beliau termasuk
pedagang buku yang besar dan sukses saat itu. Selain itu karena semangat dakwah
dan jiwa pendidik yang beliau miliki, KH. Moh. Rodhi Sholeh kemudian merintis
lembaga pendidikan di Klender dengan nama Al-Falah yang saat ini memiliki
lembaga pendidikan mulai dari MI, MTs, dan MA.
KH. Moh. Rodhi Sholeh menikah
dengan puteri salah satu pimpinan Pondok Pesantren Matholiul Falah (KH. Mahfudz
Salam) yang bernama Nyai Fadlilah (adik dari KH. Sahal Mahfudz dan keponakan
KH. Abdullah Salam). Dari pernikahan ini beliau memiliki satu putera (KH. Nur
Fuad), dan 3 puteri. Pada tahun 1984 Ibu
Fadlilah meninggal dunia dan dimakamkan di Pondok Bambu. Setelah Ibu Fadillah
meninggal, KH Moh Rodhi Sholeh kemudian menikah kembali dengan Ibu Nyai
Zuhrotul Azizah (salah satu keponakan KH. Abdullah Salam lainnya) dan memiliki
dua orang anak, 1 putera dan 1 puteri. Ibu Nyai Zuhrotul Azizah meninggal dalam
sebuah kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan Jakarta – Pati dan dimakamkan di
Kayen Pati
Ketika tinggal di Jakarta KH.
Moh. Rodhi Sholeh dan keluarga pernah berpindah-pindah tempat, yaitu di
Klender, Pondok Gede, dan Pondok Bambu. Di setiap tempat tinggal beliau, KH.
Moh. Rodhi Sholeh tidak pernah lepas dari dunia pendidikan dan dakwah, sehingga
ketika beliau meninggal dunia, masyarakat dari ketiga tempat ini meminta
keluarga untuk memakamkan KH. Moh. Rodhi Sholeh di kampung mereka sebagai
bentuk pengakuan dan penghormatan kepada beliau.
Salah satu sikap menonjol yang
dimiliki oleh KH. Moh. Rodhi Sholeh adalah semangat, ketekunan dan kecintaaan
beliau terhadap ilmu. Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan beliau yang selalu
menggunakan waktunya untuk menelaah kitab maupun buku (diceritakan oleh putera
beliau bahwa di kamar beliau selalu berserakan buku dan kitab yang biasa
ditelaah oleh KH. Moh. Rodhi Sholeh).
KH. Moh. Rodhi Sholeh juga
senantiasa aktif dalam organisasi NU dari muda, mulai dari IPNU, Ansor hingga
menjadi pengurus NU. Kedalaman dan keluasan ilmu beliau diakui oleh para ulama
dalam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama sehingga pada Muktamar NU ke-27 Situbondo,
beliau mendapat amanah untuk menjadi Wakil Rais Am Syuriah Nahdlatul Ulama
periode 1984 – 1989, kemudian pada dua muktamar berikutnya beliau mendapat
amanah sebagai anggota Muntasyar PBNU periode 1989 – 1994 dan periode 1994 –
1999.
KH. Moh. Rodhi Sholeh meninggal
pada tanggal 12 Juni 2001 dan bertepatan dengan 20 Rabiul Awwal 1422. Beliau
dimakamkan di pemakaman Pondok Bambu, yang berada di tengah antara Pondok Gede
dan Klender.