Senin, 15 November 2021

KYAI HASYIM

 

Kyai Hasyim adalah putera dari KH. Abdul Manan. Pendidikan beliau ditempuh dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren lainnya, salah satunya adalah di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, yang saat itu diasuh oleh KH. M. Hasyim Asy’ari. Setelah Kyai Hasyim pulang dari pondok pesantren Tebu Ireng Jombang pada tahun 1935, beliau menjadi salah satu penerus perjuangan penyelenggaraan pendidikn yang dirintis KH. Muhammad Nur Nashoha—yang saat itu—belum memiliki nama. Kyai Hasyim kemudian mengusulkan untuk menata ulang pola pendidikan yang dijalankan dengan mengacu pola pendidikanj kelas yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, dan juga—bersama dengan para kyai lainnya—memberi nama Salafiyatul Huda pada lembaga pendidkian yang dirintis oleh KH. Muhammad Nur Nashoha tersebut. Setelah era Kyai Abdullah Tawwab (putera KH Muhammad Nur Nashoha) dan Kyai Abdullah Sajad (santri KH. M. Nur Nashoha), beliau merupakan salah satu pimpinan lembaga Salafiyul Huda. Sebelum Kyai Hasyim meninggal dunia, beliau mempercayakan pengelolaan madrasah Salafiyatul Huda kepada lima orang generasi muda (penerus beliau), yaitu:

1.       Kyai Mahsun Abdul Manan (adik Kyai Hasyim sendiri)

2.       Kyai Ahmad Masroeri

3.       Kyai Cholil Toyyib

4.       Kyai Muhammad (KH. Muhammad Nur Hamid)

5.       Kyai Hayyun

Beliau meninggal pada tahun 1946 dan dimakamkan di makam Pulo Selo Tawangharjo Grobogan

KYAI MAHSUN ABDUL MANAN

 

Kyai Mahsun dilahirkan di Selo. Beliau adalah putera dari KH. Abdul Manan. Beliau merupakan salah satu dari lima orang yang beri amanah untuk melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya dalam pengelolaan lembaga pendidikan yang bernama Salafiyatul Huda yang kemudian diubah menjadi Madrasah Sunniyyah. Beliau adalah ayah dari KH. Umar Ali Mahsun.

Beliau meninggal pada tahun 1952 dalam usia yang masih cukup muda dan dimakamkan di makam Sagi Selo Tawangharjo Grobogan

KH. RODLI SHOLEH

 


KH Moh. Rodhi Sholeh lahir di Selo pada tanggal 03 Maret 1933. Beliau adalah salah satu putera Kyai Ramelan (KH. Sholeh). Pendidikan KH. Moh. Rodhi Sholeh dari pesantren ke pesantren, di antaranya Pesantren Termas, Pesantren Matholiul Falah Kajen, Pesantren Krapyak. Selain, beliau juga masuk dalam pendidikan formal setingkat SMP dan SMA. Beliau juga dikenal sebagai sosok yang cerdas dan tekun, sehingga ketika beliau masih menjadi santri—misal di Krapyak--beliau juga diminta untuk penjadi pendidik (guru).

Ketika kembali ke Selo, beliau ikut aktif dalam pengelolaan Madrasah Sunniyyah Selo. Pada tahun 1958, KH. Moh. Rodhi Sholeh bersama dengan pengurus Madrasah Sunniyyah Selo merintis berdirinya Madrasah Wajib Belajar (MWB), sebuah lembaga pendidikan setingkat sekolah dasar yang menjadi cikal bakal dari Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Sunniyyah Selo.

Salah satu prinsip hidup beliau adalah bahwa untuk dapat melakukan perubahan besar, seseorang harus menjadi tokoh dan memiliki pengaruh besar, maka pandai-pandailah memilih lingkungan karena lingkungan (tempat domisili) merupakan salah satu faktor yang menentukan seberapa besar dan luas pengarus yang bisa dihasilkan. Mungkin prinsip inilah yang mendorong beliau sehingga memutuskan untuk berpindah tempat ke Jakarta bersama keluarga pada tahun 1968.

Ketika pertama datang di Jakarta beliau tinggal di wilayah Klender Jakarta Timur. Beliau tinggal di dekat pasar dan masjid. Dua tempat yang mewakili dua kebutuhan hidup manusia, kebutuhan duniawi dan kebutuhan ukhrawi. Beliau memulai usaha perdagangan sebagai pedagang buku dan kitab. Usaha beliau berkembang pesat sehingga beliau termasuk pedagang buku yang besar dan sukses saat itu. Selain itu karena semangat dakwah dan jiwa pendidik yang beliau miliki, KH. Moh. Rodhi Sholeh kemudian merintis lembaga pendidikan di Klender dengan nama Al-Falah yang saat ini memiliki lembaga pendidikan mulai dari MI, MTs, dan MA.

KH. Moh. Rodhi Sholeh menikah dengan puteri salah satu pimpinan Pondok Pesantren Matholiul Falah (KH. Mahfudz Salam) yang bernama Nyai Fadlilah (adik dari KH. Sahal Mahfudz dan keponakan KH. Abdullah Salam). Dari pernikahan ini beliau memiliki satu putera (KH. Nur Fuad), dan 3 puteri. Pada tahun 1984  Ibu Fadlilah meninggal dunia dan dimakamkan di Pondok Bambu. Setelah Ibu Fadillah meninggal, KH Moh Rodhi Sholeh kemudian menikah kembali dengan Ibu Nyai Zuhrotul Azizah (salah satu keponakan KH. Abdullah Salam lainnya) dan memiliki dua orang anak, 1 putera dan 1 puteri. Ibu Nyai Zuhrotul Azizah meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan Jakarta – Pati dan dimakamkan di Kayen Pati

Ketika tinggal di Jakarta KH. Moh. Rodhi Sholeh dan keluarga pernah berpindah-pindah tempat, yaitu di Klender, Pondok Gede, dan Pondok Bambu. Di setiap tempat tinggal beliau, KH. Moh. Rodhi Sholeh tidak pernah lepas dari dunia pendidikan dan dakwah, sehingga ketika beliau meninggal dunia, masyarakat dari ketiga tempat ini meminta keluarga untuk memakamkan KH. Moh. Rodhi Sholeh di kampung mereka sebagai bentuk pengakuan dan penghormatan kepada beliau.

Salah satu sikap menonjol yang dimiliki oleh KH. Moh. Rodhi Sholeh adalah semangat, ketekunan dan kecintaaan beliau terhadap ilmu. Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan beliau yang selalu menggunakan waktunya untuk menelaah kitab maupun buku (diceritakan oleh putera beliau bahwa di kamar beliau selalu berserakan buku dan kitab yang biasa ditelaah oleh KH. Moh. Rodhi Sholeh).

KH. Moh. Rodhi Sholeh juga senantiasa aktif dalam organisasi NU dari muda, mulai dari IPNU, Ansor hingga menjadi pengurus NU. Kedalaman dan keluasan ilmu beliau diakui oleh para ulama dalam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama sehingga pada Muktamar NU ke-27 Situbondo, beliau mendapat amanah untuk menjadi Wakil Rais Am Syuriah Nahdlatul Ulama periode 1984 – 1989, kemudian pada dua muktamar berikutnya beliau mendapat amanah sebagai anggota Muntasyar PBNU periode 1989 – 1994 dan periode 1994 – 1999.

KH. Moh. Rodhi Sholeh meninggal pada tanggal 12 Juni 2001 dan bertepatan dengan 20 Rabiul Awwal 1422. Beliau dimakamkan di pemakaman Pondok Bambu, yang berada di tengah antara Pondok Gede dan Klender.


KH. MUHAMMAD NUR HAMID

 


Kyai Muhammad dilahirkan pada pada tahun 1918 di dusun Selokromo desa Nglobar Purwodadi Grobogan. Beliau menikah dengan seorang wanita dari desa Selo kemudian tinggal dan menetap di desa Selo. Beliau memiliki suara  yang indah sehingga beliau pernah menjadi muadzin sekaligus khotib di Masjid Jami’ Kyai Ageng Selo.

Sepulang dari ibadah haji, nama beliau, Muhammad, ditambah dengan Nur Hamid, sehingga nama beliau menjadi KH. Muhammad Nur Hamid. Dalam kehidupan rumah tangga, KH. Muhammad Nur Hamid tidak dikarunia putera, namun demikian, beliau memiliki beberapa anak angkat yang juga merupakan keponakan-keponakan beliau, di antara anak angkat beliau adalah, K. Malik (Wirosari), K. Khudhori (Selo), dan ….. (isteri Pak Shodri, Selo).

Beliau meninggal pada tahun 1978 pada usia 60 tahun dan dimakamkan di makam Plumpungan Selo Tawangharjo Grobogan.

Kyai Hayyun

  


Kyai Hayyun merupakan putera dari pasangan Kyai Mohammad Rofi’i dan Nyai Mar’ati. Beliau dilahirkan pada tahun 1920 di Desa Jiken Kecamatan Jiken Kabupaten Blora. Setelah menyelesaikan pendidikan setara SD pada masa penjajahan Belanda, Kyai Hayyun melanjutkan pendidikan di beberapa pesantren antara lain di pondok pesantren yang diasuh Kyai Muhammadun Kajen Pati dan pondok pesantren yang diasuh Kyai Utsman Cepu, Blora.

Kyai Hayyun kemudian menikah dengan ibu Rif (berasal dari Kunduran), namun dari pernikahan ini tidak dikaruniai keturunan. Kemudian Kyai Hayyun menikah untuk kali kedua dengan Nyai Dzomroh (berasal dari Menduran Purwodadi) dan dikaruniai seorang puteri bernama Siti Chusyainiyyah. Setelah Nyai Dzomroh meninggal dunia, Kyai Hayyun kemudian menikah dengan Nyai Kartinah, salah seorang puteri dari juru kunci makam Kyai Ageng Selo saat itu. Dari pernikahan kedua ini, pasangan Kyai Hayyun dan Nyai Kartinah dikaruniai tujuh orang putera-puteri, yaitu: Siti Muntamah, Siti Marfu'ah, Siti Wakhidah, Siti Mahmudah, Muhammadun, Siti Mukarromah, dan Nur Hamid.

Kyai Hayyun tidak menetap di Selo dalam waktu yang lama, karena tugas beliau sebagai pegawai di Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama)?), sehingga beliau beberapa kali berpindah tempat tinggal menyesuaikan penugasan yang diberikan pemerintah kepada beliau. Beliau pernah menjabat sebagai guru agama di Kecamatan Kedungjati Grobogan, menjadi penghulu (naib) di Kecamatan Japah Blora dan di Kecamatan Kunduran Blora, sehingga alamat beliau yang terakhir berada di Kecamatan Kunduran Blora.

Selama tinggal di Desa Selo, Kyai Hayyun ikut serta baik sebagai guru maupun pengelola lembaga pendidikan Salafiyatul Huda. Bahkan beliau salah satu di antara lima orang yang diberi amanat untuk melanjutkan pengelolaan Salafiyatul Huda oleh Kyai Hasyim. Kyai Hayyun bersama empat orang kyai lainnya inilah yang kemudian bermusyawarah dan memutuskan untuk mengganti nama Salafiyatul Huda menjadi Sunniyyah yang merupakan cikal bakal Yayasan Sunniyyah Selo.

Kyai Hayyun dikenal oleh masyarakat sebagai seorang pribadi yang jujur dan sederhana.

Kyai Hayyun meninggal pada tahun 1983 dan dimakamkan di pemakaman umum Desa Jiken, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora.


KYAI IBRAHIM

 Kyai Ibrahim merupakan salah satu pengurus dan donatur bagi madrasah Salafiyatul Huda. Madrasah yang kemudian berganti nama menjadi madrasa...