Kyai Ahmad Masroeri Mawardi
adalah salah satu perintis Yayasan Sunniyyah Selo. Beliau lahir di Kasingan
Rembang pada Rabu Pahing, 31 Desember 1914 M/1334 H dari pasangan H. Mawardi
bin H. Ridwam bin H. Sulaiman bin H. Nawawi al-Hadromi dengan Nyai Munikah
binti KH. Masykhur Bonang Lasem.
Pendidikan beliau dimulai dari
Sekolah Rakyat (SR) 5 tahun di Kunduran, kemudian dilanjutkan dengan nyantri
di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan juga Pondok Pesantren di Rembang.
Pada 28 Februari 1936 beliau
menikah dengan Ibu Nyai Atmah Nur Azizah binti H. Sholeh dari Desa Selo
Tawangharjo, kemudian beliau menetap di Desa Selo Kecamatan Tawangharjo
Kabupaten Grobogan. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 5 putera dan 5 orang
puteri, yaitu: Drs. KH. Ahmad Ghozalie (alm.), Drs. KH. Ahmad Buchori (Alm),
Hj. Romlah, Masyfuah (alm), Ni’mah (alm), Hj. Shihah Aidah (alm), Ahmad Ahsin
(alm), Drs. KH. Ahmad Ni’am Syukri, Faizah (alm), dan Ridwan (alm).
Kyai Ahmad Masroeri merupakan
seorang kyai yang multi talenta, seorang pendidik yang mumpuni, seorang
birokrat sekaligus politikus ulung, seorang muballigh yang piawai, dan juga
seorang mursyid thariqah yang teduh.
Dunia pendidikan beliau kenal
sejak sebelum menikah, yaitu ketika beliau menjadi guru madrasah di Rembang
(1935 – 1936). Setelah menikah dan menetap di Selo, beliau menjadi guru di
Madrasah Salafiatul Huda Selo Tawangharjo, yang kemudian bersama para kyai
lainnya (seperti Kyai Cholil Toyyib, Kyai Rodli Sholeh, dan Kyai Mahsun)
mengadakan perombakan dan pembaharuan madrasah dengan mengganti nama Madrasah
Salafiatul Huda menjadi Madrasah Sunniyyah pada tahun 1946. Mandrasah inilah
yang kemudian menjadi cikal bakal Yayasan Sunniyyah Selo.
Di samping berkhidmah di madrasah
sebagai, Kyai A. Masroeri juga merupakan seorang muballigh tangguh. Wilayah
(area) dakwah beliau terutama di wilayah Grobogan timur dan selatan—yang saat
itu juga merupakan basis PKI—sehingga dalam melaksanakan dakwah beliau
menghadapi tantangan besar baik karena
kondisi wilayah yang cukup luas dan jalur menuju lokasi dakwah belum memadai,
maupun tantangan dari orang/kelompok yang terganggu dengan aktivitas dakwah
beliau. Oleh karena itu, ancaman pembunuhan maupun teror bukan merupakan hal
yang aneh bagi beliau.
Dalam perkembangannya, beliau
kemudian berbaiat thariqah kepada KH. Arwani Amin Kudus. Kemudian beliau
mendapat amanat untuk menjadi guru (mursyid) Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah
dan mendirikan Pondok Thoriqah Tarbiyatus Salikin di Desa Selo Kecamatan
Tawangharjo.
Beliau juga aktif di organisasi
NU mulai dari Ketua MWC NU Tawangharjo (1952), Ketua LAPUNU Cabang Purwodadi
(1955), Ketua Tanfidziah NU Cabang Purwodadi (1957 -1968), Rois Suriyah NU
Cabang Purwodadi (1968 – 1970), Ketua Tanfidziah NU Cabang Purwodadi (1971 -1976),
Dalam birokrasi pun beliau juga
berperan aktif sebagai Juru Warta Pembangunan (1951 – 1954), Juru Warta Kepala
Jawatan Penerangan Tawangharjo (1954 – 1955), Juru TU tingkat I (1955), Perakit
Penerangan (1956 – 1958), Pengatur Urusan Agama (1960 – 1967), Penata Urusan
Agama (1967 – 1968), Anggota DPRD Grobogan (1967), Wakil Ketua DPRD Grobogan
(1967), Ketua Majlis Pertimbangan Cabang PPP Purwodadi (1974).
Kyai Ahmad Masroeri meninggal pada
Ahad Wage, 30 Juli 1989 M/28 Dzulhijjah 1409 H di Desa Selo dan dimakamkan di
makam utara Masjid Jami’ Kyai Ageng Selo. (mka)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar