Senin, 11 Oktober 2021

KYAI AHMAD MASROERI MAWARDI

Kyai Ahmad Masroeri Mawardi adalah salah satu perintis Yayasan Sunniyyah Selo. Beliau lahir di Kasingan Rembang pada Rabu Pahing, 31 Desember 1914 M/1334 H dari pasangan H. Mawardi bin H. Ridwam bin H. Sulaiman bin H. Nawawi al-Hadromi dengan Nyai Munikah binti KH. Masykhur Bonang Lasem.

Pendidikan beliau dimulai dari Sekolah Rakyat (SR) 5 tahun di Kunduran, kemudian dilanjutkan dengan nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan juga Pondok Pesantren di Rembang.

Pada 28 Februari 1936 beliau menikah dengan Ibu Nyai Atmah Nur Azizah binti H. Sholeh dari Desa Selo Tawangharjo, kemudian beliau menetap di Desa Selo Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 5 putera dan 5 orang puteri, yaitu: Drs. KH. Ahmad Ghozalie (alm.), Drs. KH. Ahmad Buchori (Alm), Hj. Romlah, Masyfuah (alm), Ni’mah (alm), Hj. Shihah Aidah (alm), Ahmad Ahsin (alm), Drs. KH. Ahmad Ni’am Syukri, Faizah (alm), dan Ridwan (alm).

Kyai Ahmad Masroeri merupakan seorang kyai yang multi talenta, seorang pendidik yang mumpuni, seorang birokrat sekaligus politikus ulung, seorang muballigh yang piawai, dan juga seorang mursyid thariqah yang teduh.

Dunia pendidikan beliau kenal sejak sebelum menikah, yaitu ketika beliau menjadi guru madrasah di Rembang (1935 – 1936). Setelah menikah dan menetap di Selo, beliau menjadi guru di Madrasah Salafiatul Huda Selo Tawangharjo, yang kemudian bersama para kyai lainnya (seperti Kyai Cholil Toyyib, Kyai Rodli Sholeh, dan Kyai Mahsun) mengadakan perombakan dan pembaharuan madrasah dengan mengganti nama Madrasah Salafiatul Huda menjadi Madrasah Sunniyyah pada tahun 1946. Mandrasah inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Yayasan Sunniyyah Selo.

Di samping berkhidmah di madrasah sebagai, Kyai A. Masroeri juga merupakan seorang muballigh tangguh. Wilayah (area) dakwah beliau terutama di wilayah Grobogan timur dan selatan—yang saat itu juga merupakan basis PKI—sehingga dalam melaksanakan dakwah beliau menghadapi tantangan besar  baik karena kondisi wilayah yang cukup luas dan jalur menuju lokasi dakwah belum memadai, maupun tantangan dari orang/kelompok yang terganggu dengan aktivitas dakwah beliau. Oleh karena itu, ancaman pembunuhan maupun teror bukan merupakan hal yang aneh bagi beliau.

Dalam perkembangannya, beliau kemudian berbaiat thariqah kepada KH. Arwani Amin Kudus. Kemudian beliau mendapat amanat untuk menjadi guru (mursyid) Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah dan mendirikan Pondok Thoriqah Tarbiyatus Salikin di Desa Selo Kecamatan Tawangharjo.

Beliau juga aktif di organisasi NU mulai dari Ketua MWC NU Tawangharjo (1952), Ketua LAPUNU Cabang Purwodadi (1955), Ketua Tanfidziah NU Cabang Purwodadi (1957 -1968), Rois Suriyah NU Cabang Purwodadi (1968 – 1970), Ketua Tanfidziah NU Cabang Purwodadi (1971 -1976),

Dalam birokrasi pun beliau juga berperan aktif sebagai Juru Warta Pembangunan (1951 – 1954), Juru Warta Kepala Jawatan Penerangan Tawangharjo (1954 – 1955), Juru TU tingkat I (1955), Perakit Penerangan (1956 – 1958), Pengatur Urusan Agama (1960 – 1967), Penata Urusan Agama (1967 – 1968), Anggota DPRD Grobogan (1967), Wakil Ketua DPRD Grobogan (1967), Ketua Majlis Pertimbangan Cabang PPP Purwodadi (1974).

Kyai Ahmad Masroeri meninggal pada Ahad Wage, 30 Juli 1989 M/28 Dzulhijjah 1409 H di Desa Selo dan dimakamkan di makam utara Masjid Jami’ Kyai Ageng Selo. (mka)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KYAI IBRAHIM

 Kyai Ibrahim merupakan salah satu pengurus dan donatur bagi madrasah Salafiyatul Huda. Madrasah yang kemudian berganti nama menjadi madrasa...