Senin, 11 Oktober 2021

KYAI CHOLIL TOYYIB

 


Kyai Cholil Toyyib adalah salah satu perintis Yayasan Sunniyyah Selo. Beliau lahir pada sekitar tahun 1915. Beliau adalah putera keempat dari dua belas bersaudara. Ayah beliau bernama Kyai Atmo Toyyib sedang ibu beliau bernama Nyai Juwariyah

Dalam perjalanan pendidikan, beliau pernah menimba ilmu di tiga pondok pesantren di tempat yang berbeda-beda. Pertama kali beliau belajar di sebuah pondok pesantren di daerah Rembang (tidak diketahui nama pondok pesantrennya). Saat itu beliau ikut kakek beliau yang berada di Kunduran Blora.  Setelah beberapa waktu, beliau ingin mencari suasana baru kemudian beliau berpindak ke pondok pesantren lain ke Rembang. Setelah itu, beliau menimba ilmu di Pondok Termas yang diasuh oleh KH. Mahfudz Termas di daerah Pacitan, Jawa Timur.

Sebelum berangkat menuntut ilmu di Pondok Termas, beliau mencari bekal (sangu) untuk ‘mondok’ dengan membantu kakak beliau berdagang di daerah Sulursari. Setelah merasa cukup bekal yang diperlukan, beliau berangkat ke Pacitan untuk menuntut ilmu di Pondok Termas, sedangkan usaha yang dirintis beliau diteruskan oleh adik beliau. Beberapa kali beliau mendapatkan kiriman bekal dari adik beliau dari usaha yang dikelola, namun hal tersebut tidak berlangsung lama karena usaha yang diteruskan sang adik tidak berjalan sebagaimana harapan. Karena tidak ada kiriman bekal dari rumah, maka beliau melakukan berbagai usaha (ikhtiar) agar dapat tetap bisa melanjutkan belajar di Pondok asuhan KH. Mahfudz Termas tersebut.

Selang beberapa bulan beliau pulang ke Selo. Ketika KH. Sholeh (seorang tokoh Islam di Selo yang kemudian menjadi mertua Kyai Cholil) mengetahui bahwa Kyai Cholil muda ‘mondok’, KH. Sholeh memberi amanah kepada Kyai Cholil muda untuk “merawat” putranya,  Kyai Rodli muda (kemudian menjadi kakak ipar) di pondok  pesantren. Setelah beberapa tahun, akhirnya beliau pulang dan memutuskan untuk muqim di rumah. Kemudian Kyai Cholil muda diambil menantu oleh KH. Sholeh dan dinikahkan dengan salah satu putrinya yang bernama Nyai Kasmonah. Saat itu Kyai Cholil muda berusia 30 tahun dan Nyai Kasmonah berusia 15 tahun

Setelah menikah, Kyai Cholil muda mendirikan konveksi kecil-kecilan dan mampu bertahan hingga 10 tahun. Usaha konveksi mengalami perkembangan dari tahun ke tahun, namun Kyai Cholil muda merasakan ada sesuatu yang kurang dalam hati. Beliau merasa ilmu yang didapatkan dari berbagai pondok pesantren belum mampu memberi kemanfaatan secara maksimal, baik bagi beliau sendiri maupun bagi masyarakat secara umum. Hal ini—dalam perenungan beliau—disebabkan salah satunya akibat kesibukan beliau dalam mengelola usaha konveksi dan usaha-usaha lain yang dikembangkn beliau.

Oleh karena itu, beliau kemudian memutuskan dan membulatkan tekad untuk sepenuh hati mengfokuskan diri pada upaya untuk memberikan layanan pendidikan agama (mengaji) kepada masyarakat umum. Beliau melepaskan diri dari seluruh kesibukan usaha yang beliau rintis dan mengamanatkan seluruh usaha tersebut kepada isteri beliau, Nyai Kasmonah. Kemudian pada tahun 1958 beliau mendirikan sebuah tempat pengajian yang diberi nama al-Hidayah yang kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Al-Hidayah.

Selain itu, setelah pulang dari pondok juga menjadi guru di madrasah Salafiatul Huda yang didirikan oleh Kyai Hasyim bersama kiai-kiai lain. Kemudian, Kyai Cholil bersama dengan kiai-kiai penerus perjuangan Kyai Hasyim (antara lain Kiai Masroeri, Kyai Rodli Sholeh, dan Kyai Mahsun) merubah nama madrasah Salafiatul Huda menjadi madrasah Sunniyyah pada tahun 1946 dengan maksud untuk membangkitkan semangat baru dalam pengelolaan dan pengembangan madrasah. Inilah yang kemudian berkembangan seiring perjalanan zaman menjadi Yayasan Sunniyyah Selo.

Kyai Cholil Toyyib adalah seorang kiai yang tegas dalam memegang prinsip dalam melaksanakan syariat Islam. Diceritakan bahwa—dalam beberapa waktu—beliau selalu melakukan i’adah (mengulang shalat) shalat Dhuhur setelah shalat Jum’at ketika dalam pandangan beliau jumlah jamaah shalat Jum’at kurang dari 40 orang laki-laki. Beliau senantiasa ber-khusnudzon dengan orang lain, sehingga di hadapan beliau semua orang baik. Beliau juga sangat tawadhu dalam bersikap kepada orang lain terutama dengan para ulama saat itu. Dikisahkan bahwa beliau dan Kyai Ahmad Masroeri sering berebut cepat ketika turun dari masjid untuk menyiapkan sandal yang lain sebagai bentuk ta’dzim dan penghormatan kepada seorang ‘alim. (Kyai Cholil menyiapkan sandal Kyai A. Masroeri, demikian juga sebaliknya Kyai A. Masroeri menyiapkan sandal Kyai Cholil).

Pada tahun 1979, K. Cholil Toyyib meninggal dunia dan dimakamkan di pemakanan utara Masjid Jami’ Kyai Ageng Selo. K. Cholil Toyyib dan Nyai Kasmonah memiliki 10 putra putri, yang terdiri dari 3 putera dan 7 puteri, yaitu; Masti'ah, Musyarofah, Aisyah, Muzayyanah, Suyuti, Imron Hasani, Roehanah, Hariroh, Umi Rofiqoh, dan Gufron. Saat ini, putra putri beliau yang masih hidup ada 3 orang yaitu, Ibu Masti’ah (isteri Alm. Drs. KH. Ahmad Buchori Masroeri), Ibu A’isyah, dan KH. Imron Hasani Cholil (Ketua Yayasan Sunniyyah Selo saat ini). (mka)

KYAI AHMAD MASROERI MAWARDI

Kyai Ahmad Masroeri Mawardi adalah salah satu perintis Yayasan Sunniyyah Selo. Beliau lahir di Kasingan Rembang pada Rabu Pahing, 31 Desember 1914 M/1334 H dari pasangan H. Mawardi bin H. Ridwam bin H. Sulaiman bin H. Nawawi al-Hadromi dengan Nyai Munikah binti KH. Masykhur Bonang Lasem.

Pendidikan beliau dimulai dari Sekolah Rakyat (SR) 5 tahun di Kunduran, kemudian dilanjutkan dengan nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan juga Pondok Pesantren di Rembang.

Pada 28 Februari 1936 beliau menikah dengan Ibu Nyai Atmah Nur Azizah binti H. Sholeh dari Desa Selo Tawangharjo, kemudian beliau menetap di Desa Selo Kecamatan Tawangharjo Kabupaten Grobogan. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 5 putera dan 5 orang puteri, yaitu: Drs. KH. Ahmad Ghozalie (alm.), Drs. KH. Ahmad Buchori (Alm), Hj. Romlah, Masyfuah (alm), Ni’mah (alm), Hj. Shihah Aidah (alm), Ahmad Ahsin (alm), Drs. KH. Ahmad Ni’am Syukri, Faizah (alm), dan Ridwan (alm).

Kyai Ahmad Masroeri merupakan seorang kyai yang multi talenta, seorang pendidik yang mumpuni, seorang birokrat sekaligus politikus ulung, seorang muballigh yang piawai, dan juga seorang mursyid thariqah yang teduh.

Dunia pendidikan beliau kenal sejak sebelum menikah, yaitu ketika beliau menjadi guru madrasah di Rembang (1935 – 1936). Setelah menikah dan menetap di Selo, beliau menjadi guru di Madrasah Salafiatul Huda Selo Tawangharjo, yang kemudian bersama para kyai lainnya (seperti Kyai Cholil Toyyib, Kyai Rodli Sholeh, dan Kyai Mahsun) mengadakan perombakan dan pembaharuan madrasah dengan mengganti nama Madrasah Salafiatul Huda menjadi Madrasah Sunniyyah pada tahun 1946. Mandrasah inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Yayasan Sunniyyah Selo.

Di samping berkhidmah di madrasah sebagai, Kyai A. Masroeri juga merupakan seorang muballigh tangguh. Wilayah (area) dakwah beliau terutama di wilayah Grobogan timur dan selatan—yang saat itu juga merupakan basis PKI—sehingga dalam melaksanakan dakwah beliau menghadapi tantangan besar  baik karena kondisi wilayah yang cukup luas dan jalur menuju lokasi dakwah belum memadai, maupun tantangan dari orang/kelompok yang terganggu dengan aktivitas dakwah beliau. Oleh karena itu, ancaman pembunuhan maupun teror bukan merupakan hal yang aneh bagi beliau.

Dalam perkembangannya, beliau kemudian berbaiat thariqah kepada KH. Arwani Amin Kudus. Kemudian beliau mendapat amanat untuk menjadi guru (mursyid) Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah dan mendirikan Pondok Thoriqah Tarbiyatus Salikin di Desa Selo Kecamatan Tawangharjo.

Beliau juga aktif di organisasi NU mulai dari Ketua MWC NU Tawangharjo (1952), Ketua LAPUNU Cabang Purwodadi (1955), Ketua Tanfidziah NU Cabang Purwodadi (1957 -1968), Rois Suriyah NU Cabang Purwodadi (1968 – 1970), Ketua Tanfidziah NU Cabang Purwodadi (1971 -1976),

Dalam birokrasi pun beliau juga berperan aktif sebagai Juru Warta Pembangunan (1951 – 1954), Juru Warta Kepala Jawatan Penerangan Tawangharjo (1954 – 1955), Juru TU tingkat I (1955), Perakit Penerangan (1956 – 1958), Pengatur Urusan Agama (1960 – 1967), Penata Urusan Agama (1967 – 1968), Anggota DPRD Grobogan (1967), Wakil Ketua DPRD Grobogan (1967), Ketua Majlis Pertimbangan Cabang PPP Purwodadi (1974).

Kyai Ahmad Masroeri meninggal pada Ahad Wage, 30 Juli 1989 M/28 Dzulhijjah 1409 H di Desa Selo dan dimakamkan di makam utara Masjid Jami’ Kyai Ageng Selo. (mka)


KYAI IBRAHIM

 Kyai Ibrahim merupakan salah satu pengurus dan donatur bagi madrasah Salafiyatul Huda. Madrasah yang kemudian berganti nama menjadi madrasa...